Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Dr. Adian Husaini, mengajak ribuan wali murid di Pekanbaru menerapkan konsep pendidikan dalam Gurindam-12 karya Raja Ali Haji. Himbauan itu disampaikannya dalam acara Parenting Akbar Sekolah Az-Zuhra Group di Aula Kampus UIN Pekanbaru, yang dihadiri lebih dari 2000 orang, (Sabtu, 3/1/2026).
Bahkan, kepada para wali santri, Dr. Adian juga menawarkan hadiah bagi yang bisa menghafal Gurindam-12. Ternyata tidak ada satu pun yang mengangkat tangan. Lalu, ditawarkannya, “Coba siapa yang hafal, satu pasal saja!”
Alhamdulillah, ada yang hafal pasal 2 Gurindam-12. Maka, ia mendapat hadiah sebuah buku karya Dr. Adian yang berjudul: “Beginilah Pendidikan Nasional yang Ideal,” Buku ini merupakan pelengkap dari buku “Pendidikan Islam: Mewujudkan Generasi Gemilang Menuju Negara Adidaya 2045” – salah satu buku best seller yang telah lima kali dicetak ulang.
Kehadiran Ketum DDII di Pekanbaru kali ini memenuhi undangan Sekolah Islam Az-Zuhra yang memiliki sekitar 5000 siswa dari TK sampai Institut Az-Zura. Ini kali pertama mereka menyelenggarakan parenting akbar yang diikuti lebih dari 2000 peserta.
Disamping itu, Ketum DDII juga mengisi acara kajian pendidikan yang diikuti oleh 500-an guru, pimpinan, dan dosen-dosen kampus Institut Az-Zuhra. Pada Sabtu malamnya, Ketum DDII mengadakan silaturrahim dengan jajaran pimpinan DDII Riau, yang dipimpin oleh Dr. Muhammad Nurdin.
Dalam acara Parenting Akbar Az-Zuhra Group itu, Dr. Adian menyampaikan presentasi dengan judul: “KIAT SUKSES MENDIDIK ANAK DUNIA AKHIRAT”. Selama 2 jam, ia menjelaskan konsep baku pendidikan Islam yang telah terbukti melahirkan beberapa generasi gemilang, seperti Generasi Sahabat Nabi, Generasi Shalahuddin al-Ayyubi, Generasi Muhammad al-Fatih, dan Generasi 1945 Indonesia.
Model abadi pendidikan ideal itu adalah: “Beradablah dan berilmulah!” Model itu kemudian dijabarkan oleh Dr. Adian ke dalam rumus “TOP”: (1) Tanamkanlah adab sebelum ilmu (2) Oetamakanlah ilmu-ilmu fardhu ain (3) Pilihlah ilmu-ilmu fardhu kifayah yang tepat, sesuai potensi anak dan kebutuhan masyarakat.
Ketum DDII itu memaparkan bahwa konsep ideal itu telah ia terapkan untuk anak-anaknya dan juga di Pesantren At-Taqwa Depok, serta di kampus STID M Natsir – DDII. “Hasilnya sudah kelihatan dan bisa dievaluasi untuk diperbaiki terus-menerus penerapannya,” ujarnya.
Dan menurut Ketua Program Doktor PAI-UIKA Bogor ini, model pendidikan ideal itu sebenarnya ada dalam Gurindam-12. Hal ini telah dikaji oleh Dr. Dian Dwi Okputra, yang menulis disertasi berjudul “Konsep Pendidikan Anak dalam Gurindam 12 karya Raja Ali Haji” di Program Doktor PAI-UIKA Bogor. Sayangnya, menurut disertasi ini, Gurindam Dua Belas tidak diajarkan secara mendalam di Lembaga-lembaga Pendidikan di Riau dan Kepulauan Riau. Di hadapan ribuan wali murid itu, Dr. Adian Husaini membacakan beberapa pasal Gurindam-12, yang sangat penting untuk menjadi dasar pendidikan ideal. Misalnya, dalam pasal lima, disebutkan: “Diantara tanda orang berilmu, bertanya dan belajar tiadalah jemu!”
Ungkapan itu benar-benar memiliki makna penting bagi para pencari ilmu. Bahwa, dalam proses mencari ilmu, tidak boleh merasa lelah atau jemu dan para pelajar harus suka bertanya. Bertanya adalah tanda ia berpikir dan memiliki keinginan untuk menambah ilmu. Jika tidak ada lagi yang suka bertanya, maka pertanda ilmu itu sudah mati.
Pasal pertama Gurindam 12 memberikan landasan pemikiran yang kokoh bagi pelajar dalam memahami dirinya, Tuhannya, dan hakikat kehidupan dunia serta kehidupan akhirat. Ada empat hal yang wajib dipahami dan dikenal dengan mendalam, agar selamat dunia akhirat. Yakni, mengenal Allah, mengenal diri, mengenal dunia, dan mengenal akhirat. Jika seorang mengenal yang empat tersebut, maka ia telah memahami makna taqwa kepada Tuhannya.
Pasal ketiga Gurindam 12 memberikan panduan tentang pentingnya menjaga tujuh anggota tubuh, agar seorang meraih kemuliaan hidup. Tujuh anggota tubuh itu adalah: mata, telinga, lidah, perut, tangan, kemaluan, dan kaki. Raja Ali Haji, misalnya, menulis: “Apabila terpelihara mata, maka sedikitlah cita-cita.” … “Jika perut terlalu penuh, keluarlah fi’il tiada senonoh.”
Kitab Gurindam 12 juga memberikan panduan dalam membangun budaya literasi yang beradab. Kitab ini bukan hanya mendidik pelajar agar cinta ilmu, suka membaca dan menulis. Tetapi, juga sangat menekankan penanaman iman dan akhlak mulia. Raja Ali Haji menulis: “Diantara tanda orang berakal, di dalam dunia ia mengambil bekal!”
Orang yang berakal atau orang cerdas bukan hanya orang yang menguasai banyak ilmu pengetahuan. Tetapi, yang lebih mendasar, ia menyadari bahwa hidup di dunia ini sangat singkat dan hanya tempat lewat sesaat. Akhirat adalah tujuan hidup yang sebenarnya. Karena itu, sampai seseorang menjadikan dunia sebagai tujuan.
Hidup di dunia adalah untuk beribadah kepada Allah, sebagai bekal di hari akhir nanti. Itulah tanda orang yang berakal. Karena itu, hanya orang yang tidak berakal (dungu), yang menghabiskan waktunya di dunia bukan untuk mengumpulkan bekal untuk akhiratnya.
Dan pada pasal terakhir, Raja Ali Haji menutup Gurindam dengan kata-kata indah: “Akhirat itu terlalu nyata, kepada hati yang tidak buta!”
Itulah diantara keindahan dan kehebatan isi Guridam 12 dilihat dalam perspektif pendidikan Islam. Alangkah sayangnya jika kitab klasik seperti ini tidak dikaji secara serius dan isinya tidak dijadikan sebagai panduan dalam pendidikan anak-anak kita. Tentu saja, perlu dilakukan penyesuaian atau kontekstualisasi dengan situasi dan kondisi yang ada.
“Dengan khazanah kekayaan intelektual dan kekayaan alamnya yang begitu hebat, sebenarnya provinsi Riau berpotensi besar menjadi pelopor kebangkitan pendidikan dan peradaban Islam di Indonesia. Semoga Allah menolong kita semua. Amin,” demikian harapan Ketum DDII, Dr. Adian Husaini.
Humas Dewan Dakwah
Editor: Abu Dzakir