Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (disingkat: Dewan Dakwah/DDII) didirikan pada 26 Februari 1967. Maka, pada 26 Februari 2026, Dewan Dakwah genap berusia 59 tahun. Usia 59 tahun bukan muda lagi. Dan alhamdulillah, Dewan Dakwah terus aktif melaksanakan dakwah Islam di seluruh penjuru Indonesia.
Dewan Dakwah didirikan oleh tokoh-tokoh Islam terkemuka di Indonesia, yang juga para pendiri bangsa (founding fathers), seperti Mohammad Natsir (Perdana Menteri pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia), Mr. Mohammad Roem (Menteri Luar Negeri RI, dan penandatangan Perjanjian Roem-Van Roejen), Mr. Sjafroedin Prawiranegara (Presiden Pemerintahan Darurat Republik Indonesia dan Gubernur Bank Indonesia pertama), Prof. Dr. HM Rasjidi (Menteri Agama pertama RI, yang memimpin Kementerian Agama), Mr. Burhanuddin Harahap (Perdana Menteri RI ke-9), Prawoto Mangkusasmito (Ketua Partai Islam Masyumi terakhir), Prof. Kasman Singodimedjo (Jaksa Agung Pertama), Buchari Tamam (Tokoh Gerakan Pemuda Islam Indonesia dan Sekretaris Dewan Da’wah pertama), dan sebagainya.
Dalam usianya yang ke-59 tahun, di tahun 2025, Dewan Dakwah telah memiliki perwakilan di 32 provinsi dan lebih dari 200 daerah tingkat II di Indonesia. Kini, ribuan dai Dewan Dakwah aktif berdakwah di seluruh pelosok Indonesia; baik di kota-kota maupun di daerah-daerah pedalaman. Mereka terhimpun dalam lembaga bernama PERSADA (Persatuan Dai Dewan Dakwah).
Disamping itu, ada sekitar 300 dai yang bertugas di daerah-daerah dan mendapatkan ‘mukafaah’ (insentif) bulanan secara rutin dari Dewan Dakwah pusat. Ratusan lagi dai Dewan Dakwah yang dibiayai kegiatan dakwah mereka oleh beberapa Dewan Dakwah daerah. Setiap tahun, Dewan Dakwah mengirimkan ratusan dai ke seluruh pelosok Indonesia.
Ada sekitar 1000 masjid yang telah didirikan di Dewan Da’wah, tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Saat ini keluarga besar Dewan Dakwah mengelola ribuan pondok pesantren, sekolah, dan perguruan tinggi. Dewan Dakwah kini memberikan perhatian serius menangani tiga poros dakwah, yaitu masjid, kampus, dan pondok pesantren.
Kampus utama Dewan Dakwah, yakni Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir, hingga tahun 2026, telah meluluskan 1321 alumni. Mereka berkiprah dalam bidang dakwah di berbagai pelosok Nusantara. STID Mohammad Natsir saat ini juga mendidik dan memberi beasiswa kepada lebih dari 1300 mahasiswa tingkat S-1 dan mahasiswa ADI. Mereka disiapkan menjadi dai-dai dan guru-guru ngaji yang siap diterjunkan ke masyarakat pelosok. Disamping itu, hingga tahun 2026 ini, Dewan Dakwah juga mengelola 30 Kampus Akademi Dakwah Indonesia (ADI) di beberapa kota se-Indonesia.
Karena ribuan lulusan STID Mohammad Natsir dan ADI telah berkiprah sebagai dai di tengah masyarakat, maka kami yakin, STID Mohammad Natsir adalah termasuk kampus terbaik. (QS Fushilat: 13).
Sejak tahun 2007, Dewan Dakwah juga dikenal dengan Program Kaderisasi Ulama (PKU) yang awalnya bekerjasama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Sampai tahun 2024, Program ini telah melahirkan 77 doktor dan 250 lebih master, dalam berbagai bidang keilmuan. Banyak diantara mereka yang telah berkiprah dalam bidang pendidikan dan pemikiran Islam, seperti Dr. Tiar Anwar Bahtiar, Dr. Dinar Dewi Kania, Dr. Ujang Habibie, Dr. Ahmad Alim, Dr. Imam Zamroji, Dr. Budi Handrianto, Dr. Ahmad Annuri, Dr. Dwi Budiman, dan sebagainya.
Sejak didirikan tahun 1967 hingga kini, Mohammad Natsir dan Dewan Dakwah telah mengirim dan memberikan rekomendasi kepada ribuan mahasiswa yang menimba ilmu di Timur Tengah, Amerika, Eropa, dan Malaysia. Para kader Dewan Dakwah itu – atau para kader Mohammad Natsir itu — masih banyak yang aktif berkiprah di tengah masyarakat, baik sebagai dosen, politisi, guru, maupun pimpinan Lembaga Pendidikan Islam.
Saat ini, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia berkantor di Gedung Menara Dakwah, yang berlokasi di pusat kota Jakarta, di Jalan Kramat Raya 45. Gedung sembilan lantai ini bisa dikatakan sebagai gedung dakwah tertinggi di Jakarta. Nama “Gedung Menara Da’wah” diberikan oleh KH Ali Yafie yang pernah menjadi Rois Am Nahdlatul Ulama. Gedung ini dimanfaatkan untuk perkantoran Dewan Dakwah, kampus STID Mohammad Natsir, perpustakaan, pusat multimedia, dan sebagainya.
Perpustakaan Dewan Dakwah memiliki berbagai koleksi yang unik. Diantaranya adalah Ruang khusus koleksi pribadi Prof. HM Rasjidi. HM Rasjidi adalah Menteri Agama pertama RI dan sekaligus dikenal sebagai salah satu cendekiawan hebat yang pernah menjadi pengajar di McGill University di tahun 1960-an. HM Rasjidi dikenal sangat kritis terhadap pemikiran para orentalis, meskipun gelar doktor diraihnya dari Sorbonne University di bawah bimbingan orientalis terkemuka, Louis Massignon.
Dewan Dakwah telah memiliki Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) Dewan Da’wah, dengan perwakilan di sejumlah provinsi. Semuanya telah disahkan oleh Kementerian Agama. LAZNAS Dewan Da’wah kini tergabung dalam koordinasi organisasi Zakat Ormas Islam, bersama Lembaga zakat NU, Muhammadiyah, Hidayatullah, Persatuan Islam, Wahdah Islamiyah, dan al-Irsyad al-Islamiyah. LAZNAS Dewan Da’wah juga menjadi anggota Forum Zakat Nasional (FOZ).
Di Asia Tenggara dan Internasional, LAZNAS Dewan Dakwah tergabung dalam South East Asia Humanitarian Forum dan Forum NGO Islam tingkat dunia yang berpusat di Turki. Forum ini beranggotakan 350 NGO dari 65 negara. Di forum ini, LAZNAS Dewan Dakwah duduk sebagai auditing board member. Selama enam tahun (2015-2020), Laznas Dewan Dakwah mendapat penghargaan “Wajar Tanpa Pengecualian (WTP)”. Ini merupakan opini tertinggi dalam audit keuangan. Tahun 2022, LAZNAS Dewan Da’wah mendapat penghargaan sebagai Lembaga Zakat Nasional dengan Program Dakwah terbaik dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). (ttps://www.laznasdewandakwah.or.id).
Disamping itu, Dewan Da’wah juga secara resmi mendirikan Badan Wakaf Dewan Dakwah, yang telah mendapatkan pengesahan Badan Bawaf Indonesia (BWI) untuk menyelenggarakan wakaf barang dan tunai. Badan wakaf ini sangat strategis, sebab kini Dewan Dakwah mendapatkan amanah untuk mengelola ratusan aset-aset wakaf yang tersebar di seluruh Indonesia.
Sejak puluhan tahun lalu, Dewan Da’wah juga menjalin kerjasama dengan sejumlah lembaga Islam internasional seperti Rabithah Alam Islamy di Mekkah, al-Haiah Khairiyah al-Islamiyah Kuwait, Komite Koordinasi Amal Islamy—Organisasi Konferensi Islam Jeddah, International Islamic Council for Da’wah and Relief (IICDR) Kairo, Haiah al-Ighatsah al-Islamiyah al-Alamiyah Jeddah, RISEAP Kuala Lumpur dan sebagainya.
Saat ini, Dewan Da’wah juga masih menjadi anggota Rabithah Alam Islami di Makkah, International Islamic Charitable Organization (IICO) di Kuwait, dan Muzadhomah ad-Da’wah wal-Ighatsah al-Alamiyah di Cairo. Juga, Dewan Da’wah menjadi partnership dari Zakat House Kuwait dan al-Syaikh Abdullah an-Nury Foundation Kuwait.
Sejak berdirinya tahun 1967, sudah 57 tahun, Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia berkiprah dalam dakwah Islam di Indonesia. Selama itu, Dewan Da’wah dipimpin tokoh-tokoh hebat: Dr. Mohammad Natsir, Prof. Dr. HM Rasjidi, Dr. Anwar Haryono, K.H. Affandi Ridwan, HM Cholil Badawi, H. Hussein Umar, K.H. Syuhada Bahri, dan H. Mohammad Siddiq.
Mulai 22 Oktober 2020, amanah kepemimpinan itu dilimpahkan kepada Prof. Dr. KH Didin Hafidhuddin sebagai Ketua Pembina Dewan Dakwah dan Dr. Adian Husaini, sebagai Ketua Umum. Dr. Adian Husaini juga menjabat sebagai Ketua Program Doktor Pendidikan Islam di Universitas Ibn Khaldun Bogor dan Anggota Dewan Pertimbangan MUI Pusat. (Lihat: www.adianhusaini.id).
Sejak berdirinya, Dewan Dakwah memutuskan untuk menguatkan jalan dakwah dan pendidikan sebagai jalan perjuangan, sebagaimana digariskan oleh Mohammad Natsir. Pola gerak Dewan Dakwah menggunakan model bina’an wa-difaa’an. Dalam bidang kaderisasi dai, Dewan Dakwah menyelenggarakan pendidikan dai dalam berbagai tingkat pendidikan. Sebagai lembaga dakwah, Dewan Dakwah pun terus aktif melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Termasuk memberikan taushiyah kepada pemerintah denga cara: bil-hikma, wal-mau’idhatil hasanah, wa-bil-mujadalah bil-latiy hiya ahsan.
Dalam bidang politik kepartaian, Dewan Dakwah memutuskan untuk menekuni bidang dakwah dan pendidikan, serta mengambil jarak yang sama dengan semua kekuatan politik yang memperjuangkan aspirasi umat Islam dan memperjuangkan kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bapak Mohammad Natsir adalah tokoh Mosi Integral pada 3 April 1950, yang mengembalikan Indonesia menjadi Negara Kesatuan. Beliau adalah negarawan teladan yang menjadi contoh bagi para negarawan di Indonesia hingga kini.
Dan pada usianya yang ke-57 tahun, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) semakin mengokohkan diri sebagai organisasi yang bergerak di bidang dakwah dan pendidikan di Indonesia, dengan menjalankan lima fungsi, yaitu: menguatkan aqidah, menegakkan syariah, merekat ukhuwah, mengokohkan NKRI, dan menggalang solidaritas dunia Islam. Semoga Allah senantiasa memberikan bimbingan-Nya kepada para pimpinan dan keluarga besar Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, di seluruh Indonesia. (Jakarta, Sya’ban 1447/Januari 2026).
Pengurus Dewan Dakwah 2025-2030
Ketua Pembina: Prof. Dr. KH Didin Hafidhuddin, MS
Ketua Umum: Dr. H. Adian Husaini, M.Si.
